Rabu, 20 Juli 2011

Al-Gumaisha’ binti Milhan Ummu Sulaim: Kurelakan Pemiliknya Mengambil Amanah Itu

Rasulullah saw. bersabda: 
Ketika aku memasuki surga, aku mendengar suara langkah kaki, lalu aku bertanya: “Siapa itu?” Malaikat menjawab: “Itu Ghumaisho’ binti Milhan, ibunda Anas bin Malik.” (HR. Muslim: 4494)
Nama aslinya adalah Ghumaisha’ dan juga dipanggil dengan Rumaisha’ binti Milhan dari kaum Anshar, atau yang lebih dikenal dengan kunyahnya yaitu Ummu Sulaim . Ia adalah sosok wanita yang selalu dekat dengan Rasulullah.
Pertama, tentang kisah pernikahannya.
An-Nasa-i meriwayatkan dari hadits Anas Rodiyallahu ‘anh, ia mengatakan, ” Abu Thalhah datang melamar, lalu Ummu Sulaim berkata, ” Demi Allah, orang semisalmu, wahai Abu Thalhah, tidak akan ditolak. Tetapi engkau adalah pria kafir, sedangkan aku wanita muslimah, dan tidak halal bagiuku menikahimu. Jika engkau masuk Islam, maka itulah maharku dan aku tidak meminta kepadamu selainnya. Kemudian dia masuk Islam, lalu hal itu menjadi maharnya. Tsabit berkata, “Aku tidak mendengar seorang wanita pun yang lebih mulia maharnya dibanding Ummu Sulaim, (maharnya) yaitu Islam”.(HR. An-Nasa-i No. 3341 kitab an-Nikaah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahiih an-Nasa-i),
Kedua, kesabarannya
Anas bin Malik Rodiyallahu ‘anh meriwayatkan bahwa seorang anak dari Abu Thalhah sakit. Ketika Abu Thalhah keluar, anak itu meninggal. Ketika Abu Thalhah kembali, dia bertanya, “Bagaimana anakku?’ Ummu Sulaim menjawab, “Ia dalam kondisi sangat tenang,” seraya menghidangkan makan malam kepadanya, dan dia pun makan. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Ummu Sulaim berkata, “Jangan beritahukan kepada Abu Thalhah tentang kmatian anakny.” Kemudian ia melakukan tugasnya sebagai istri kepada suaminya, lalu suaminya berhubungan intim dengannya. Ketika akhir malam, ia berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaiman pendapatmu bila keluarga si fulan meminjam suatu pinjaman, lalu memanfaatkannya, kemudian ketika pinjaman itu diminta, mereka tidak suka?” Ia menjawab, “Mereka tidak adil.” Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Allah dan Dia telah mengambilnya.” Abu Thalhah beristirja’ (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaihi raaji’uun) dan memuji Allah seraya mengatakan, “Demi Allah, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.” Pada pagi harinya, dia datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi was sallam. Tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda:
“Semoga Allah memberkahi kalian berdua di malam hari kalian.’
Keberkahan itu, sejak malam itu, mencakup ‘Abdullah bin Abi Thalhah’, dan tidak ada pada kaum Anshar seorang pemuda yang lebih baik darinya. Dari ‘Abdullah tersebut lahirla banyak anak, dan Abdullah tidak meninggal sehingga dia dikaruniai sepuluh anak yang semuanya hafal Al-Qur’an, dan dia wafat di jalan Allah.
(HR. Bukhari no. 5470 kitab al-’Aqiiqah, Muslim no. 2144 kitab Fadhaa-ilush Shahaabah, Ahmad no. 11617)
Ketiga, jihadnya di jalan Allah
Muslim meriwayatkan dari Anas Rodhirayallahu ‘anhu bahwa pada perang Hunain, Ummu Sulaim membawa pisau kecil. Senjata itu bersamanya. Ketika Abu Thalhah melihatnya, maka dia mengatakan, “Wahai Rasulullah! Ini adalah Ummu Sulaim, ia membawa pisau kecil.” Mengetahui hal itu, beliau bertanya, “Untuk apa pisau kecil ini?” Ia menjawab, “Aku membawanya, jika seorang dari kaum musyrik mendekat kepadaku, maka aku robek perutnya dengannya.” Mendengar hal itu beliau tertawa. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, akan kubunuh orang-orang yang masuk Islam setelah kita dari kalangan thulaqa 1 yang melarikan diri darimu!” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab, “Wahai Ummu Sulaim, Allah telah mencukupi dan berbuat baik.” 2
Keempat, kemuliaannya di rumahnya
Kita masih membicarakan shahabiyah mulia ini, dan kita akan mendengarkan tentang kemuliannya di rumahnya dan pengetahuannya bahwa Allah Azza Wajala akan memberi ganti kepada orang-orang yang berinfak. 3
Dalam shahiih al-Bukhari dari hadits Anas Rodiyallahu ‘anhu, ia menuturkan bahwa Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim, “Aku telah mendengar suara Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam dalam keadaan lemah yang aku ketahui beliau sedang lapar, apakah engkau mempunyai sesuatu?”  Ia menjawab, “Ya.” Lalu ia mengeluarkan sejumlah roti yang terbuat dari gandum, kemudian mengeluarkan kerudungnya, lalu membungkus roti tersebut dengan sebagiannya. Kemudian ia melilitkannya di bawah tanganku, lalu mengutusku kepada Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam. Aku pun pergi dan menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam di masjid bersama sejumlah orang. Ketika aku berada di hadapan mereka, beliau bertanya kepadaku, “Apakah Abu Thalhah mengutusmu?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Dengan membawa makanan?” Aku menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam bersabda kepada orang-orang yang bersamanya, “Berdirilah!” Beliaupun beranjak dan aku pun beranjak dari hadapan mereka hingga aku sampai kepada Abu Thalhah, lalu aku mengabarkan kepadanya. Abu Thalhah berkata, “Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam telah datang bersama sejumlah orang, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk menjamu mereka.” Ia menjawab, “Allah dan Rasul Nya yang lebih tahu.” Lalu Abu Thalhah pergi hingga bertemu Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam datang dan Abu Thalhah menyertainya, lalu beliau berkata, “Kemarilah wahai Ummu Sulaim, apa yang engkau miliki?”  Maka ia membawa roti tersebut. Lantas Rosulullah Shalallahu ‘alahi wassalam memerintahkan untuk membukanya, dan Ummu Sulaim membuat kuah untuk menguahinya. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alahi wassalam mengatakan kepada makanan itu apa yang hendak dikatakannya, kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” Maka makanan itu mengizinkan mereka dan makanlah mereka hingga kenyang, lalu mereka keluar. Kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” Maka ia mengizinkan mereka, lalu mereka makan hingga kenyang, kemudian mereka keluar. Selanjutnya beliau mengatakan, “Izinkan untuk 10 orang!” Kemudian mereka semua makan hingga kenyang. Mereka semua berjumlah 70 atau 80 orang. 4
Inilah seorang wanita yang mengajarkan kepada kaum wanita untuk bersabar, juga kepada kaum pria, dan mengajarkan kepada kita supaya ridha dengan ketentuan Allah. Kita memohon kepada Allah, semoga para wanita bisa belajar bersabar ketika mengalami musibah yang menyedihkan agar melahirkan tokoh-tokoh seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Malik, Ahmad dan Asy-Syafi’i.
 ***************
Saudariku muslimah, renungkanlah teladan yang mengagumkan ini, engkau akan mendapati seorang wanita, dia adalah teladan para wanita, dia sabar, mengharap balasan pahala terhadap kematian anaknya. Maka Allah membalas kebaikan dengan kebaikan dan menganugrahinya anak baru sampai anak itu menikah dan dikarunia sembilan orang anak semuanya hafal Al-Qur’an.

Pelajaran apakah yang bisa Saudariku petik dari kisah ini?

  1. Istri yang shalihah, dia mempunyai akal yang cerdas dan sikap yang cerdik
  2. Kelemahlembutan dalam menyampaikan berita duka cita kematian atau musibah
  3. Lebih mementingkan ridha suami daripada kesedihannya dan ini termasuk berbaktinya seorang istri kepaada suami
  4. Kecintaan para sahabat yang mulia kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan keinginan untuk selalu berada di sisi beliau
  5. Pemilihan nama-nama yang bagus bagi anak-anak dan nama yang paling utama yaitu Abdullah dan Abdurrahman
  6. Barangsiapa meninggalkan sesuatu karena semata-mata mencari wajah Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik

———————————————————————-
1 Ath-thulaqa’ adalah orang-orang yang masuk Islam dari penduduk Makkah pada hari penaklukkan Makkah. Mereka dinamakan demikian karena Nabi Shalallahu ‘alahi wassalam memberi kebebasan kepada mereka, dan keislaman mereka sangatlah lemah. Oleh karena itu Ummu Sulaim berkeyakinan bahwa mereka itu munafik yang berhak dibunuh karena mereka melarikan diri.
2 HR. Muslim no. 1809 kitab al-jihaad was Siyar, abu Dawud no. 3718 kitab al-Jihaad, Ahmad no. 11698.
3 Fiqhut Ta’aamul Bainaz Zaujaini, al-‘Adawi (hal. 100)
4 HR. Al-Bukhari no. 3578 kitab Al-Manaaqib, Muslim no. 2040 kitab Al-Asyribah, At-Tirmidzi no. 3630 kitab Al-Manaaqib, Ahmad no. 13135, Malik no. 1725 kitab Al-Jaami’, Ad-Darimi no.43, kitab Al-Muqaddimah.
Sumber: Bingkisan Istiewa Bagi Wanita, Abu Maryam Majdi Fathi As-Sayyid
~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha' 

Tunggu Kami di Pintu Surga, Nak ...

Bismillah..
20 Juli 2011, waktu dhuha

Subhanallah..
Rencana Allah begitu luar biasa dan siapapun tak bisa menduga, Nak..
Siapa mengira impian yang sempat terbesit di hati beberapa tahun lalu menjadi kejutan luar biasa dihari ini.
Ya.. Hari ini impian itu sudah lebih cepat Allah kabulkan.
Kami punya keinginan dan rencana, tapi sungguh.. Allah juga punya.

Kehadiran buah cinta adalah momen istimewa, dinanti dengan sejuta harap dan untaian do'a.
Begitu banyak kenangan indah telah kita lewati bersama, Nak..
Begitu banyak keajaiban-keajaiban yang kami alami selama bersamamu. Ketika kami merasakan gerakmu pertama kali seolah engkau berkata dalam sunyi, "Ummi, aku disini..".

Namun, kami begitu terkejut ketika detakmu tiba-tiba berhenti, tiada lagi tanda kehidupan disana, Sang Pemilik begitu cepat merengkuhmu dari sisi kami, bahkan sebelum engkau melihat indahnya dunia.
Tak mudah bagi kami untuk tak bersedih atas 'lepasnya' dirimu dari bagian hidup. Rasa ini fitrah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun bersedih ketika sang putra Ibrahim meninggal, airmata beliau berlinang, sehingga sahabat Anas bin Malik dan 'Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhuma bertanya: "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis? Bukankah engkau telah melarang menangis?"
Sang Rasul menjawab: "Wahai ibnu Auf, sungguh, tangisan ini adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang". "Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka, namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai ibrahim, sungguh kami sangat berduka karena berpisah denganmu". (HR. Bukhari & Muslim)
Maka linangan airmata ini adalah kasih sayang untukmu, Nak..
Mungkin kami belum bisa setegar Ummu Sulaim ketika melepas putranya, tapi kami terus berusaha..

Sungguh.. Kehilangan adalah sebuah kenikmatan. Kenikmatan bagi hati yang menikmati dan mengikhlaskan.
Kehilanganmu bukanlah momen mencari kambing hitam, tapi saat yang sangat berharga bagi kami memperkuat pikiran baik kepada Allah dan memetik kuntuman hikmah.
Bagi kami ini bukan musibah, Nak. Tapi ini adalah 'rahmat'..
Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun..

Engkau adalah titipan Allah, Nak..
Dan hari ini Allah telah berkenan mengambil titipannya kembali.
"Simpanan akhirat", Allah telah memilih kami untuk mendapatkannya. Alhamdulillah, ada rona bahagia dan haru di benak kami.
Subhanallah, ada semburat bangga dalam lubuk hati ketika Allah mempercayakan kami merawat calon "pelayan surga".
Membersamaimu dalam 9 bulan adalah kenangan indah, Nak..

Kini, selesai sudah tugas kami menjagamu, perjuangan kami bersamamu telah purna sampai disini.. Kami hantarkan engkau dalam haru biru dan kedamaian hati.
Hembusan ketenangan melingkupi hati kami, karena engkau telah dilindungi selamanya di surga, tanpa dosa. Tiada sesuatupun yang membahayakan dirimu sekarang.

Terima kasih, Nak..
Engkau telah mengajarkan banyak hal agar kami lebih baik di mata Allah. Allah memang punya rencana indah ketika menitipkanmu pada kami.

Akhirnya, Nak..
Selamat menjadi 'larva surga'.
Lirih benak kami bergumam..
Tunggu kami di surga ya Nak.. Semoga Allah mengijinkan kami untuk bersamamu kelak.

Alhamdulillah..
* Diantara tawakal dan bahagia untuk buah cinta pertama kami tersayang, Ghumaisha' Khairatun Hisan...