Sabtu, 22 Desember 2012


Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering." (HR. At-Tirmidzi).

Selasa, 28 Agustus 2012

Potret Salaf Dalam Birrul Walidain


Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar, menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair, karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu.” Beliau menjawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar, karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari sahabat Ibnu Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil dari Birrul walidain, karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah, karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kalajengking berada dalam rumahnya, beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat, kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan tangannya ke dalam liang untuk menangkap kalajengking tersebut. Beliaupun tersengat kalajengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kalajengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya. (bagian batang kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari Shifatush Shafwah)

Hafshah binti Sirin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirin memberikan kain untuk ibunya, maka beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirin mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirin bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’, karya adz-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirin pada saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada para sahabat Muhammad bin Sirin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia mengadukan suatu hal? Para sahabat Muhammad bin Sirin mengatakan, “Tidak. Akan tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar A’lamin Nubala’, karya adz-Dzahabi)
Humaid mengatakan, tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah, karya Ibnul Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni
Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang bernama Uwais bin Amir”, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau bertanya, “engkau Uwais bin Amir?”, “Betul” Jawabnya. 
Khalifah Umar bertanya, “Engkau dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn?”, “Betul,” sahutnya. 
Beliau bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham?”, “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau memiliki seorang ibu.” 
Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman, dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” 
Maka mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan, “Berada di tengah-tengah banyak orang sehingga tidak dikenal itu lebih ku sukai.” (HR. Muslim)

For my little mujahid..
~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'  

Jumat, 03 Agustus 2012

Belajar Hikmah Dari Surat Imam Al Ghazali


Wahai anak! Nasihat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.
Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”
Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal dan kehilangan kemauan kerja. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.
Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.
Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.
(www.eramuslim.com)

For my little mujahid..

~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'  



Senin, 30 Juli 2012

Catatanku #5

Bismillah...
Assalamu'alaikum, sayang..:)  Apa kabarmu pagi ini? Semoga engkau selalu dalam naungan cinta Ar Rahmaan..
Hamdan lillah.. tak terasa sudah 27 minggu usiamu dalam rahim ummi. Hm.. hampir 7 bulan ya..
Gimana kondisimu, nak? Rahim ummi yang gelap ini masih nyaman buat berenang dan bobokmu kan??
Semoga kasih sayang, ketenangan dan kenyamanan selalu engkau rasakan lewat belaian lembut ummi dalam doa dan dzikrullah, dalam lantunan tilawah al-quran yang ummi baca, serta dalam kenikmatan shalat dan sujud panjang ummi.

Marhaban ya ramadhan...
Alhamdulillah Allah masih memberi ummi kenikmatan untuk bertemu ramadhan kali ini, bulan yang indah dan penuh berkah. 
Subhanallah.. Allah memberi ummi kesempatan dan kekuatan untuk menjalani ramadhan ini bersamamu dalam rahim ummi..
Sungguh, sebuah kenikmatan yang luar biasa , nak. Ummi bisa membersamaimu menunaikan ibadah-ibadah dalam bulan mulia ini. Shalat, tilawah al-quran, shaum, dst. Semoga ini manjadi sarana tarbiyah untukmu, calom mujahidku..:) 

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

Nak, 2 hari yang lalu ummi dan abi menengokmu lewat USG. Alhamdulillah, biidznillah kondisimu cukup baik meskipun diajak shaum. Subhanallah, Ini semua karena kekuasaan Allah. Semoga Allah senantiasa memberi ummi kekuatan untuk bisa menunaikan puasa dan ibadah-ibadah lain hingga berakhirnya ramadhan nanti. Aamiin ya Rabb..
Oya, sayang.  Beratmu sekarang 781 gram. Kata dokter posisimu masih sungsang, jadi ummi mesti memperbanyak sujud agar posisimu bisa normal. Bantu ummi ya nak.. Perlahan ubah posisi tubuhmu, gerakkan badanmu sampai posisi kepalamu di bawah perut ummi dan kakimu di bagian atas perut ummi. oke, sayang...:) Semoga kelak engkau bisa lahir dengan normal, selamat dan sehat. 

"Ya Robb kami, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, dan kepada dua orang ibu bapakku, dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih". (QS An Naml:19).

Sayang, dengan bismillah mari kita nikmati ramadhan ini bersama dengan penuh kesyukuran. Bantu ummi untuk menghiasinya dengan amalan-amalan ibadah sebagai bekal partemuan dangan Rabb kita, Allah yang Maha Rahman.

Ummi mencintaimu karena Allah...

~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'  

Selasa, 10 Juli 2012

Untuk Suamiku Dunia Akhirat



~~Sepenuh Cinta, Istrimu..

Surat Cinta Untuk Suamiku


Suamiku..
Entah dengan apa ku harus menggambarkan segala rasaku padamu..
Tak cukup dengan untaian kata, dan barisan kalimat barnada..
Tak mampu tergambar dengan pewarna apapun, semuanya terlalu indah..
Tak kan ada kanvas yang mampu membingkai semua warna tentangmu..
Karena kau begitu indah disini.. dihatiku..
Tahukah betapa besar rasa syukurku, ketika Allah memilihku menjadi pendampingmu..
Tak pernah ku merasa cukup mensyukuri nikmat itu..
Batapa bahagiaku ketika kau memilihku diantara sekian banyak bidadari yang jauh lebih indah di luar sana..
Kau tahu dengan sangat tahu, aku hanya wanita dengan segala keterbatasan. dan kau tetap memilihku..

Duhai lelaki pilihan Allah untukku..
Tahukah betapa buncahan di dada ini seakan ingin meledak, membawaku ke awan yang hanya mampu kuekspresikan dengan air mata.
ketika dari lisanmu kau sebut namaku dalam lantunan ijab kabul yang suci.
ketika itu pula ku abdikan diriku padamu, dengan segala ketundukan yang kumiliki..
dan kau tahu, bahwa akan ku patuhi inginmu selama tak bermaksiat pada Sang Maha Kasih, Rabbul 'izzati..

Duhai Lelakiku, penghias mata dan hatiku..
Tak pernah ku lalui tiap hari kecuali kulalui hanya dengan jatuh cinta padamu..
Tak akan pernah berkurang rasa ini padamu, karena disini di hati ini kaulah yang terindah..
Dan akupun berharap dengan segala kekuranganku, kau sudi menjadikanku perhiasan terindah di mata dan hatimu..
Aku tahu, diri ini tak jelita dan tak secerdas 'Aisyah, apa lagi setakwa Khadijah, Namun sungguh ku akan belajar mencintaimu seperti mereka, cinta yang terbingkai atas namaNya..

Kasihku, pewarna terindah dalam hidupku..
tahukah betapa tiap pagi kulalui dengan rasa cemas melepasmu pergi, sungguh bukannya ku tak percaya pada kesetiaanmu.
Namun mungkin karena cinta ini begitu besar padamu, dan akan berakhir dengan pelukan penuh rindu ditiap senjaku..
menyambutmu dengan segenap rindu dan cintaku.

Pelipur laraku..
Aku pun tahu betapa lelah dan penat harimu, bergelut dengan rutinitas kerjamu..
Kau lalui dengan penuh keikhlasan demi aku, demi anak-anak kita kelak, demi kami amanahmu dariNya..
Sungguh, ketika kau lelap dalam tidurmu, aku menangis menatapmu dalam wajah lelahmu..
Betapa ku hargai tiap tetesan keringatmu, bukan berapa banyak yang telah kau beri, namun berapa banyak cinta dalam tiap tetes keringatmu, dalam tiap lelahmu.. Dan aku selalu merasa cukup dengan itu..

Cintaku, labuhan hatiku..
Gandeng tanganku ke FirdausNya..
Jangan segan membangunkanku di 1/3 malam terakhir, bersama kita mengarungi samudra cinta dalam lautan dzikir..
Jangan pernah segan menegurku dalam tiap khilafku, aku adalah wanita bisa, ada kalanya ku berbuat salah padamu, maka bersabarlah padaku, jangan membentakku atau membiarkanku..
Kau tahu, aku adalah kaum yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok..
Tatap mataku dengan cintamu, genggam tanganku dan nasihati aku dengan lembut. kau akan menemukanku menangis dalam dekapanmu.. dan kau akan kembali memiliki hatiku..

Kekasihku dunia akhirat..
Kau adalah nahkodaku, kemana kau mengarahkan haluan rumah tangga kita, disitu pula aku akan mengikutimu..
Maka jadilah imam yang baik untukku, Ajarkan aku mencintaimu karenaNya..
Ridhalah padaku, maka Rabb kitapun akan Ridha padaku..
Mudahkanlah jalanku ke JannahNya..
Sungguh, cintaku padamu akan bertambah seiring ketakwaanmu padaNya, dan akan berkurang dengan kemaksiatanmu pada-Nya..
Aku mencintaimu karena Allah..

Ditahun ke 2 pernikahan kita, 10 Juli 2012 
~~Sepenuh Cinta, Istrimu..



Selasa, 03 Juli 2012

Catatanku #4

Bismillah...

Assalamu'alaikum nak, apa kabarmu ?? Semoga engkau dalam keadaan sehat wal'afiat.
23 minggu sudah engkau meringkuk dalam rahim Ummi. Bagaimana disana, hangat bukan? Apakah engkau bisa bobo dengan nyaman? Apakah kebutuhan makan dan minummu tercukupi?  Ummi  berharap dirimu bisa merasakan kehangatan cinta yang Ummi alirkan setiap hari, setiap detik. Juga bait-bait doa yang Ummi lafalkan pada setiap detakan jantung, pada setiap helaan nafas. Semoga engkau juga menikmati sejuknya lantunan dzikir dalam setiap belaian Ummi untukmu, sayang..

Pekan lalu Ummi dan Abi menengokmu melalui USG. Alhamdulillah, menurut dokter engkau sehat, gerakkanmu bagus dan detak jantungmu juga baik. Insya Allah engkau adalah anak laki-laki, sayang.

Tahu nggak, nak.  Abi bahagia sekali mendengar kabar ini. Ummi pun juga begitu.
Engkau adalah anugrah dari Allah untuk kami, nak.. 

Setiap tahap perkembanganmu yang menakjubkan adalah kesyukuran kami dan limpahan kasih sayang Allah untuk kita.
Subhanallah. Alhamdulillah.. Laa ilaha illallah.. Allahu akbar..



فَبِأَيِّ آلَاء رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Anakku, engkau masih ingat dengan diskusi-diskusi kita kemarin kan??
Bahwa Ummi sangat mencintaimu, begitupun Abi. 
Tapi tahukah engkau, nak. Ada yang lebih mencintaimu melebihi kami berdua. 
Dialah Allah, Pemilik seluruh semesta ini.Allah lah yang menciptakanmu, menempatkanmu dalam rahim Ummi yang gelap, merawat dan menjagamu melebihi perawatan dan penjagaan kami terhadapmu.Hanya kepada Allah Ummi dan Abi berdoa dan meminta segala kebaikan, keselamatan, dan kesehatan untukmu. Karena Allah lah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, nak.. 


 يَخْلُقُكُمْ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ خَلْقًا مِّن بَعْدِ خَلْقٍ فِي ظُلُمَاتٍ ثَلَاثٍ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ فَأَنَّىٰ تُصْرَفُونَ
."Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?".
{Az-Zumar ayat 6}

Hari berganti hari, gerakmu semakin banyak dan semakin dapat ummi rasakan. Setiap hari pula, Abi selalu ingin menikmati perkembanganmu lewat gerakmu. 
Sering Abi menyapamu, Nak. mengajakmu berdzikir, mengaji, dan berbicara. Sebagaimana yang Ummi lakukan kepadamu. 
Kami selalu ingin menikmati sapaanmu sambil tak henti-hentinya berdecak kagum dan bersyukur atas semua keajaiban ini. Subhanallah... Amazing...

Anakku, engkau menyambut fitrahmu sejak ditiupkannya ruh kepadamu, ketika empat bulan usiamu dalam rahim. Engkau telah melakukan perjanjian dengan Allah, Rabb semerta ini.


“Dan ingatlah ketika Tuhan-mu Mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah Mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya Berfirman), “Bukankah aku ini Tuhan-mu? Mereka menjawab, “betul (Engkau tuhan kami), kami menjadi saksi”…..(QS.Al-A’raaf:172)

Menjadi anak yang shalih dan penyejuk hati keluarga, itulah doa dan harapan  kami, nak..
Semoga engkau terus tumbuh dalam naungan kasih sayang dan keridhaan Ar-Rahmaan, Bunayya..

#Nak, aku mencintaimu... Sungguh, Karena Penciptamu menyuruhku begitu..

~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'  

Senin, 02 Juli 2012

“Uwais al-Qarni”: Tak terkenal di Bumi, Terkenal di Langit

Pada zaman Nabi Muhammad SAW. ada seorang pemuda bernama Uwais Al-Qarni. Ia tinggal dinegeri Yaman. Uwais adalah seorang yang terkenal fakir, hidupnya sangat miskin. Uwais Al-Qarni adalah seorang anak yatim. Bapaknya sudah lama meninggal dunia. Ia hidup bersama ibunya yang telah tua lagi lumpuh. Bahkan, mata ibunya telah buta. Kecuali ibunya, Uwais tidak lagi mempunyai sanak family sama sekali.
Dalam kehidupannya sehari-hari, Uwais Al-Qarni bekerja mencari nafkah dengan menggembalakan domba-domba orang pada waktu siang hari. Upah yang diterimanya cukup buat nafkahnya dengan ibunya. Bila ada kelebihan, terkadang ia pergunakan untuk membantu tetangganya yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti dia dan ibunya. Demikianlah pekerjaan Uwais Al-Qarni setiap hari.
Uwais Al-Qarni terkenal sebagai seorang anak yang taat kepada ibunya dan juga taat beribadah. Uwais Al-Qarni seringkali melakukan puasa. Bila malam tiba, dia selalu berdoa, memohon petunjuk kepada Allah. Alangkah sedihnya hati Uwais Al-Qarni setiap melihat tetangganya yang baru datang dari Madinah. Mereka telah bertemu dengan Nabi Muhammad SAW, sedang ia sendiri belum pernah menjumpainya.
Berita tentang Perang Uhud yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW. mendapat cedera dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya, telah juga didengar oleh Uwais Al-Qarni. Segera Uwais Al-Qarni mengetok giginya dengan batu hingga patah. Hal ini dilakukannya sebagai ungkapan rasa cintanya kepada Nabi Muhammmad SAW. sekalipun ia belum pernah bertemu dengan beliau.
Hari demi hari berlalu, dan kerinduan Uwais Al-Qarni untuk menemui Nabi SAW. semakin dalam. Hatinya selalu bertanya-tanya, kapankah ia dapat bertemu Nabi Muhammad SAW. dan memandang wajah beliau dari dekat ? Ia rindu mendengar suara Nabi SAW. kerinduan karena iman.
Tapi bukankah ia mempunyai seorang ibu yang telah tua renta dan buta, lagi pula lumpuh? Bagaimana mungkin ia tega meninggalkannya dalam keadaan yang demikian? Hatinya selalu gelisah. Siang dan malam pikirannya diliputi perasaan rindu memandang wajah Nabi Muhammad SAW.
Akhirnya, kerinduan kepada Nabi SAW.  yang selama ini dipendamnya tak dapat ditahannya lagi. Pada suatu hari ia datang mendekati ibunya, mengeluarkan isi hatinya dan mohon ijin kepada ibunya agar ia diperkenankan pergi menemui Rasulullah SAW. di Madinah.
Ibu Uwais Al-Qarni walaupun telah uzur, merasa terharu dengan ketika mendengar permohonan anaknya. Ia memaklumi perasaan Uwais Al-Qarni seraya berkata, “pergilah wahai Uwais, anakku! Temuilah Nabi di rumahnya. Dan bila telah berjumpa dengan Nabi, segeralah engkau kembali pulang.”
Betapa gembiranya hati Uwais Al-Qarni mendengar ucapan ibunya itu. Segera ia berkemas untuk berangkat. Namun, ia tak lupa mnyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkannya, serta berpesan kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi. Sesudah berpamitan sembari mencium ibunya, berangkatlah Uwais Al-Qarni menuju Madinah.
Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al-Qarni sampai juga dikota Madinah. Segera ia mencari rumah nabi Muhammad SAW. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al-Qarni menanyakan Nabi SAW. yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada berada dirumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al-Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah ra, istri Nabi SAW. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi SAW. tetapi Nabi SAW. tidak dapat dijumpainya.
Dalam hati Uwais Al-Qarni bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi saw dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terngiang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman, “engkau harus lekas pulang”.
Akhirnya, karena ketaatannya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi SAW. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al-Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah ra. untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais Al-Qarni pun segera berangkat mengayunkan langkahnya dengan perasaan amat haru.
Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah ra. tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni anak yang taat kepada ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah ra. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah ra, memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad SAW. melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit itu, kepada para sahabatnya., “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih ditengah talapak tangannya.”
Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali ra dan Umar ra seraya berkata, “suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Waktu terus berganti dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khatab. Suatu ketika khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al-Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib ra. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar ra dan Ali ra selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu, yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari. Mengapa khalifah Umar ra dan sahabat Nabi, Ali ra, selalu menanyakan dia ?
Rombongan kalifah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kalifah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kalifah yang baru datang dari Yaman, segera khalifah Umar ra dan Ali ra mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al-Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais Al-Qarni ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, khalifah Umar ra dan Ali ra segera pergi menjumpai Uwais Al-Qarni.
Sesampainya dikemah tempat Uwais berada, khalifah Umar ra dan Ali ra memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang shalat. Setelah mengakhiri shalatnya dengan salam, Uwais menjawab salam khalifah Umar ra dan Ali ra sambil mendekati kedua sahabat Nabi ini dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah Umar ra dengan segera membalikkan tangan Uwais, untuk membuktikan kebenaran tanda putih yang berada di telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al-Qarni.
Wajah Uwais Al-Qarni tampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi  bahwa dia itu adalah penghuni langit. Khalifah Umar ra dan Ali ra menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah.” Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al-Qarni”.
Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais Al-Qarni telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali ra memohon agar Uwais membacakan doa dan istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “saya lah yang harus meminta doa pada kalian.”
Mendengar perkataan Uwais, khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari anda.” Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al-Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar ra berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”
Kemudian Umar berkata kepadanya,”Kemanakah engkau hendak pergi?”
Uwais menjawab,”Saya ingin pergi ke Kuffah.”

Umar mengatakan,”Tidakkah sebaiknya aku menulis surat untukmu bawa kepada penguasanya?”

Uwais menjawab,”Saya berada ditengah-tengah kebanyakan orang, itu lebih saya cintai.”

Maksudnya, ia lebih menyukai tinggal bersama-sama dengan rakyat biasa, dan bukan tokoh-tokoh masyarakat. Ia menghindarkan diri dari dunia dan tidak menginginkan sesuatu apapun dari pemilik harta dan kekuasaan.

Umar berkata kepada Uwais,”sejak hari ini, engkau adalah saudaraku dan janganlah engkau berpisah dariku!”

Sejak saat itu, Uwais berusaha lepas dari jaminan kehidupan dari Umar. Ia bermaksud menuju Kuffah untuk mencari rezeki, mendekatkan diri dengan para ulama dan orang-orang yang zuhud di bumi Irak. Di sana ia menemui berbagai kesulitan yang tidak tergambarkan. Karena sikap zuhudnya dari dunia, di Kuffah ada orang yang mencaci makinya hingga menyakiti hatinya dan mengejeknya dengan ejekan yang menjadikannnya tidak sanggup bertemu orang lain.

Tapi Allah menghendaki kebaikan pada hambaNya ini dimanapun ia berada. Dia menjadikan orang membelanya dari gangguan. Allah Maha Mengetahui dan Maha Melihat, sebagaimana Dia sepanjang waktu Maha mengetahui keadaan hamba-hambaNya yang shalih.
Beberapa tahun kemudian, Uwais Al-Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, disana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.
Meninggalnya Uwais Al-Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al-Qarni adalah seorang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, disitu selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.
Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais Al-Qarni ? bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai penggembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamanmu.”
Cerita meninggalnya Uwais Al-Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar ke mana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al-Qarni disebabkan permintaan Uwais Al-Qarni sendiri kepada Khalifah Umar ra dan Ali ra, agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW. bahwa Uwais Al-Qarni adalah penghuni langit.
Ini adalah sejarah perjalanan hidup Uwais. Bagaimana gerangan dengan kabar gembira yang diberikan Allah kepadanya.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu Aalaihi wa Sallam sedang duduk diantara para sahabatnya; antara lain Abu Hurairah, Umar, Ali dan lainnya. Beliau bersabda:
“Sesungguhnya sebaik-baik generasi tabi’in adalah orang yang bernama Uwais. Dia mempunyai seorang ibu dan mempunyai belang putih ditubuhnya. Lalu dia berdoa hingga Allah menghilangkan belang itu kecuali hanya tersisa sebentuk dirham.”(HR. Muslim dalam shahihnya No. 2542, Imam Ahmad dalam Musnadnya, I/38)


Beliau adalah Uwais al-Qarni adalah teladan bagi orang yang zuhud. Ia adalah salah seorang dari delapan orang zuhud yang menghindarkan diri dari dunia, sehingga Allah menjaga mereka dan memberikan kasih sayang dan keridhaanNya. Uwais al-Qarni adalah tokoh dari generasi tabi’in dizamannya. Demikian dituturkan Imam adz-Dzahabi. Ia juga dikenal sebagai junjungan dari orang-orang yang dikatakan oleh Allah dalam firmanNya:

وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama- lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. “(QS. At-Taubah:100)

Dia adalah Abu Amr bin Amir bin Juz’I bin Malik al-Qarni al-Muradi al-Yamani. Qarn adalah salah satu suku dari kabilah Arab bernama Murad. Beliau juga termasuk satu dari wali Allah yang bertakwa.

Ia dilahirkan saat terjadi peristiwa hijrah Rasulullah Shallallahu Aalaihi wa Sallam ke Madinah. Rasulullah Shallallahu Aalaihi wa Sallam pernah membicarakan tentang dirinya. Ia mempunyai seorang ibu yang sangat ia hormati.

Rasulullah Shallallahu Aalaihi wa Sallam melanjutkan penjelasannya tentang sifat Uwais al-Qarni. Beliau bersabda,”Wahai Abu Hurairah!Sesungguhnya Allah mencintai dari makhluk-makhlukNya yang bersih hatinya, tersembunyi, yang baik-baik, rambutnya acak-acakan, wajahnya berdebu, yang kosong perutnya kecuali dari hasil pekerjaan yang halal, prang-orang yang apabila meminta izin kepada para penguasa maka tidak diizinkan, jika melamar wanita-wanita yang menawan maka mereka tidak mau menikah. Jika tidak, ada mereka tidak dicari. Ketika hadir, mereka tidak diundang. Jika muncul, kemunculannya tidak disikapi dengan kegembiraan. Apabila sakit, mereka tidak dijenguk. Dan jika mati, tidak dihadiri prosesi pemakamannya.”

Para sahabat bertanya,”Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka?”

Rasul menjawab,”Orang itu adalah Uwais al-Qarni.”

Para sahabat bertanya,”apa ciri-ciri orang yang bernama Uwais al-Qarni?”

Rasul menjawab,”Seorang yang warna bola matanya bercampur, mempunyai warna kekuning-kuningan, berbahu lebar, berbadan tegap, warna kulitnya terang, dagunya sejajar dengan dadanya, menundukan dagunya ketempat sujudnya, meletakkan tangan kanannya diatas tangan kirinya, membaca al-Qur’an lalu menangis, mengenakan sarung dari wol, pakaian atasnya dari wol, tidak dikenal penghuni bumi, terkenal dikalangan penghuni langit, apabila bersumpah atas nama Allah maka ia pasti memenuhi sumpahnya. Sungguh dibawah bahu kirinya ada cahaya berwarna putih. Sungguh, ketika hari kiamat diperintahkan kepada para hamba,”Masuklah kalian ke dalam surga.” Dan dikatakan kepada Uwais,”Berhentilah!Berilah syafaat!’lalu Allah memberikan hak syafaat kepadanya untuk menolong sejumlah orang dari suku Rabi’ah dan Mudhar (dua kabilah bangsa Arab). Wahai Umar, wahai Ali! Apabila kalian berdua bertemu dengannya maka mintalah kepadanya agar kiranya ia memintakan ampunan untuk kalian, maka Allah akan mengampuni kalian berdua.”
Ada beberapa pokok pelajaran dari seorang Uwais al Qarni agar manusia memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
"Seseorang akan memperoleh ketenangan dan ketenteraman jika hatinya selalu berdzikir kepada allah SWT dan tidak pernah terputus."
"Dan bahwa Hati itu hanyalah untuk Allah SWT, bukan untuk yang lainnya. Oleh karena itu kuasailah nafsu dan tundukkanlah secara penuh."

Sumber:
HR. Muslim dalam shahihnya kitab Fadhail ash-Shahabah No.2542 dan Imam Ahmad dalam al-Musnad,I/38
Siyar A’lam an-Nubala:Imam Adz-Dzahabi, IV/19,22-23,30
Hilyah al-Auliyah’ wa Thabaqath al-ashfiya’:Abu Nu’aim,II/83-85,87
Ath-Thabaqat:Inu Sa’ad,VI/60
101 Kisah Tabi’in


~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha' 

Senin, 28 Mei 2012

Catatanku #3

Bismillah...

Hamdan lillah.. Usia kehamilanku sudah masuk 19 minggu* ..
Allah sudah meniupkan ruh pada calon penyejuk hatiku ini.
Semoga kelak engkau menjadi anak yang shalih, nak. Banyak doa dan cinta untukmu, my Sweetheart..
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِين
  
Hasil pemeriksaan ke-4 kemarin Alhamdulillah bagus. Berat janin  3 ons, denyut jantung bagus, dan gerakanny juga bagus.
Terimakasih Ya Rahmaan atas segala kekuatan, kemudahan, dan nikmat-Mu yang tak terhitung untuk kami.
Sanantiasa dekatkan kami dengan kesyukuran dan keridhaan-Mu ya Rabbanaa..
Oya, dokter masih memberikan resep seperti sebelumnya, berupa obat penambah darah dan kalsium.
Subhanallah, inilah detik-detik pertama saat aku mulai bisa merasakan gerakanmu, nak.
Rasanya kadangkala seperti ada gelembung-gelembung udara dalam perut, kadang seperti tepukan lembut.. Ah, indah nian..
Aku sering terharu saat merasakan gerakanmu, seakan engkau menyapaku dalam kesunyianmu dan seolah engkau berkata "Ummi, aku disini..". Masya Allah, laa quwwata illa billah..
Sampai-sampai aku selalu ingin melewati pagi, sore, dan malamku dengan sapaan lembut darimu, nak.

 Amazing...

*Qadarullah, ada perbedaan hitungan umur janin pada pemeriksaan terakhir ini, menurut perhitungan kalender usia janin 17 minggu lebih dan menurut perhitungan USG usia janin sudah 19 minggu. Insya Allah khair...

 >>Bertepatan dengan 29 tahun suamiku telah menapaki bumi Allah nan indah ini. Sanah Helwah ya Habibiy, Baarakallahu fiikum..


~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'

Kamis, 03 Mei 2012

Catatanku #2

Bismillah...
Wa alhamdulillah...

Tak terasa usia kehamilanku sudah memasuki minggu ke 15 [detik-detik menjelang ditiupkannya ruh kepada anak keduaku]. Trimester pertama telah kulewati, Alhamdulillah..
Tanggal 26 April yang lalu aku memeriksakan kandunganku ke dokter untuk yang ke 3 kalinya, dan hasilnya Alhamdulillah baik. Gerakan janin bagus dan beratnya 1 ons. Dokter menyarankan aku untuk minum air putih lebih benyak dan memberikan resep berupa obat penambah darah dan kalsium.

Semoga berkembangannya terus membaik sampai kelahiran nanti. Aamiin ya Rabb..

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَاتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا 
.. رَبِّ هَبْ لى‏ مِنْ لَدُنْكَ ذُرِيَّةً طَيِّبَةً اِنَّكَ سَميعُ الدُّعاء
 
Terimakasih Ya Rahmaan atas segala kekuatan, kemudahan, dan nikmat-Mu yang tak terhitung untuk kami.

Pada waktu kami [aku dan suami] menunggu antrian di klinik kemarin, kami membaca buku "Rumus Masuk Surga". Ada beberapa tulisan yang membuat kami merenung dan sangat berkesan di benak kami, diantaranya:
"Kita kadangkala mendapati hati kita bergantung pada salah satu sebab hingga mengalahkan ketawakalan kita kepada Allah. Hal ini kerapkali muncul saat kita ditimpa musibah dan ujian, sebagaimana diungkapkan Ibnu Taimiyah. Diantara kita ada yany takut sekali ketika sakit, lalu kita yakin bahwa kesembuhan kita ada ditangan dokter." Masya Allah.. kadangkal hal ini tanpa sadar kita lakukan. Padahal sudah jelas bahwa hal ini bisa menghilangkan ketawakalan kepada Allah -- yang sangat berkaitan dengan keimanan.
Seorang 'ulama salaf berkata: "Barangsiapa yang menghadap Allah secara total, Allah akan menyambutnya secara total. Barangsiapa berpaling dari Allah secara total, Allah akan berpaling darinya secara total. Barangsiapa berpaling dari Allah sekali atau dua kali , Allah akan berpaling darinya sekali atau dua kali."
Subhanallah..
"Sungguh, kita bekerja keras mencari apa yang telah dijamin bagi kita, yakni rezeki, dan meninggalkan apa yang tak dijamin bagi kita yang seolah-olah kita tak pernah membutuhkannya, yakni surga." Betul juga ya... Masya Allah.
hmm.. Masih banyak sekali ilmu yang belum kita pelajari. Rabbanaa zidnaa 'ilman naafi'an warzuqnaa fahman waasi'an..

~~Sepenuh Cinta, Ummu Ghumaisha'
                                                                                                                                

Sabtu, 14 April 2012

Menikmati Cinta dengan Cara yang Tidak Biasa

Saat ikrar suci telah terucap. Visi hidup bersama telah saling dipahami. Misi kebersamaan pun akan segera dimulai. Setahap demi setahap, tapi pasti. Mencoba meraih keberkahan dalam setiap jeda detik kebersamaan. Belajar memaknai arti cinta disaat berdua, maupun di kala tidak bersama.

Semua harus bernilai ibadah, karena dijalan-Nya kita menikah. Itu motivasi awal menikah yang harus dibangun sebelum yang lainnya. Dan kini, ketika Allah telah mempertemukan kita dalam ikatan yang agung, maka kinilah pula saatnya kita membuktikan keseriusan kita menikah di jalan-Nya. Jangan sampai visi kabur. Jangan sampai misi gagal. Sehingga kebersamaan ini menjadi tidak berarti.

Sungguh, Rasulullah telah banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana cara menikmati kebersamaan ini dengan cara yang sangat istimewa. Ada syukur dalam suka. Ada sabar dalam duka. Karena, kalau tujuan kita menikah hanya hidup bersama saja, maka sesungguhnya binatangpun juga bisa melakukannya. Makanya, harus ada yang istimewa dalam merayakan cinta kita ini.

Mari kita simak, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengolah cintanya dengan salah seorang istrinya, Ummul Mukminin Aisyah radhiallohu ‘anha. Suatu ketika Aisyah menceritakan kisah kebersamaannya bersama Nabi.

“Aku minum, dan saat itu aku sedang haidh. Kemudian Nabi mengambilnya (gelas), dan meletakkan bibirnya di tempat dimana aku minum, lalu meminumnya. Kemudian aku menggigit daging, dan saat itu aku sedang haidh. Nabi pun meraihnya (daging tersebut) dan meletakkan mulutnya di tempat dimana aku menggigit.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi menjelaskan bahwasanya sebuah suapan suami ke mulut istrinya juga bernilai sedekah yang sangat berarti disisi Allah Ta’ala.

Maka, sungguh sayang jika kebersamaan kita hanya berlalu begitu saja. Hanya fisik yang bersatu atau hati yang saling mengagumi saja. Tanpa ada pahala yang bisa kita raup didalamnya. Bukankah kita sudah sepakat untuk membangun mahligai cinta kita diatas pilar takwa?

Meskipun kita saling mencintai, namun kita masih membutuhkan cinta Ilahi. Meskipun kasih sayang diantara kita begitu besar, tapi kita masih tetap membutuhkan kasih dan sayang-Nya. Karena sesungguhnya, cinta kita dan kasih sayang diantara kita bersumber dari mata air cinta-Nya. Sehingga, jika kita tidak terus menjaga sumber mata air cinta-Nya, maka selamanya cinta kita hanya bermakna kebersamaan saja. Tidak lebih.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu hurairah, Rasulullah pernah menyampaikan sebuah langkah terapan, tentang bagaimana kita bisa menikmati cinta kita dengan cara yang tidak biasa. Kalau biasanya orang-orang menikmati cinta mereka dengan dinner bersama di restoran yang mahal, atau berlibur ke tempat wisata, bahkan ke luar negeri, maka mari kita menikmati romantika cinta kita dengan cara yang lebih istimewa.

Rasulullah bersabda, “Allah merahmati seorang laki-laki, bangun di malam hari, lalu shalat dan membangunkan istrinya sehingga ikut serta shalat. Dan jika sang istri enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita, bangun di malam hari, lalu shalat dan membangunkan suaminya, sehingga ikut serta shalat. Dan jika enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Hakim, Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Allah merahmati, artinya Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Allah mengucurkan kasih sayang-Nya kepada kita. Sehingga mata air cinta dan kasih dalam hatinya tidak kering. Dan dengan itu, cinta diantara mereka akan terus mekar dan bersemi, karena diairi dengan mata air kasih Ilahi.

Menjadi suami atau istri adalah peran kedua kita. Sedangkan ‘ubudiyah (menghambakan diri pada Allah) adalah peran utama kita dalam hidup ini. Mari kita mainkan peran ini bersama-sama. Dalam ridha-Nya kita bertemu. Dan dengan ketaatan kepada-Nya kita isi “diary” cinta kita.

Yang jelas, cinta kita bukan cinta biasa. Kebersamaan kita bukan kebersamaan biasa. Makanya, harus kita nikmati pula dengan cara yang tidak biasa. Dengan cara yang sangat istimewa.

Karena segalanya berawal, berlangsung, dan akan berakhir atas nama IBADAH...

 sumber: http://www.eramuslim.com/syariah/siroh-tematik
~~~~~~~~
Cinta ...
Aku ingin tua bersamamu,
Menatap anak-anak
Yang meneruskan jejak kita,
Tanpa harus sesaat pun
Merasa khawatir
Hatimu pergi meninggalkanku ... 

* I praise Allah for sending me you, My Love ...
 Thank you for the love you have given to me ...