Sabtu, 14 April 2012

Menikmati Cinta dengan Cara yang Tidak Biasa

Saat ikrar suci telah terucap. Visi hidup bersama telah saling dipahami. Misi kebersamaan pun akan segera dimulai. Setahap demi setahap, tapi pasti. Mencoba meraih keberkahan dalam setiap jeda detik kebersamaan. Belajar memaknai arti cinta disaat berdua, maupun di kala tidak bersama.

Semua harus bernilai ibadah, karena dijalan-Nya kita menikah. Itu motivasi awal menikah yang harus dibangun sebelum yang lainnya. Dan kini, ketika Allah telah mempertemukan kita dalam ikatan yang agung, maka kinilah pula saatnya kita membuktikan keseriusan kita menikah di jalan-Nya. Jangan sampai visi kabur. Jangan sampai misi gagal. Sehingga kebersamaan ini menjadi tidak berarti.

Sungguh, Rasulullah telah banyak mengajarkan kepada kita, bagaimana cara menikmati kebersamaan ini dengan cara yang sangat istimewa. Ada syukur dalam suka. Ada sabar dalam duka. Karena, kalau tujuan kita menikah hanya hidup bersama saja, maka sesungguhnya binatangpun juga bisa melakukannya. Makanya, harus ada yang istimewa dalam merayakan cinta kita ini.

Mari kita simak, bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengolah cintanya dengan salah seorang istrinya, Ummul Mukminin Aisyah radhiallohu ‘anha. Suatu ketika Aisyah menceritakan kisah kebersamaannya bersama Nabi.

“Aku minum, dan saat itu aku sedang haidh. Kemudian Nabi mengambilnya (gelas), dan meletakkan bibirnya di tempat dimana aku minum, lalu meminumnya. Kemudian aku menggigit daging, dan saat itu aku sedang haidh. Nabi pun meraihnya (daging tersebut) dan meletakkan mulutnya di tempat dimana aku menggigit.” (HR. Muslim)

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi menjelaskan bahwasanya sebuah suapan suami ke mulut istrinya juga bernilai sedekah yang sangat berarti disisi Allah Ta’ala.

Maka, sungguh sayang jika kebersamaan kita hanya berlalu begitu saja. Hanya fisik yang bersatu atau hati yang saling mengagumi saja. Tanpa ada pahala yang bisa kita raup didalamnya. Bukankah kita sudah sepakat untuk membangun mahligai cinta kita diatas pilar takwa?

Meskipun kita saling mencintai, namun kita masih membutuhkan cinta Ilahi. Meskipun kasih sayang diantara kita begitu besar, tapi kita masih tetap membutuhkan kasih dan sayang-Nya. Karena sesungguhnya, cinta kita dan kasih sayang diantara kita bersumber dari mata air cinta-Nya. Sehingga, jika kita tidak terus menjaga sumber mata air cinta-Nya, maka selamanya cinta kita hanya bermakna kebersamaan saja. Tidak lebih.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu hurairah, Rasulullah pernah menyampaikan sebuah langkah terapan, tentang bagaimana kita bisa menikmati cinta kita dengan cara yang tidak biasa. Kalau biasanya orang-orang menikmati cinta mereka dengan dinner bersama di restoran yang mahal, atau berlibur ke tempat wisata, bahkan ke luar negeri, maka mari kita menikmati romantika cinta kita dengan cara yang lebih istimewa.

Rasulullah bersabda, “Allah merahmati seorang laki-laki, bangun di malam hari, lalu shalat dan membangunkan istrinya sehingga ikut serta shalat. Dan jika sang istri enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita, bangun di malam hari, lalu shalat dan membangunkan suaminya, sehingga ikut serta shalat. Dan jika enggan, maka ia percikkan air ke wajahnya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Jarir, Hakim, Ibnu Hibban dan Baihaqi)

Allah merahmati, artinya Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada kita. Allah mengucurkan kasih sayang-Nya kepada kita. Sehingga mata air cinta dan kasih dalam hatinya tidak kering. Dan dengan itu, cinta diantara mereka akan terus mekar dan bersemi, karena diairi dengan mata air kasih Ilahi.

Menjadi suami atau istri adalah peran kedua kita. Sedangkan ‘ubudiyah (menghambakan diri pada Allah) adalah peran utama kita dalam hidup ini. Mari kita mainkan peran ini bersama-sama. Dalam ridha-Nya kita bertemu. Dan dengan ketaatan kepada-Nya kita isi “diary” cinta kita.

Yang jelas, cinta kita bukan cinta biasa. Kebersamaan kita bukan kebersamaan biasa. Makanya, harus kita nikmati pula dengan cara yang tidak biasa. Dengan cara yang sangat istimewa.

Karena segalanya berawal, berlangsung, dan akan berakhir atas nama IBADAH...

 sumber: http://www.eramuslim.com/syariah/siroh-tematik
~~~~~~~~
Cinta ...
Aku ingin tua bersamamu,
Menatap anak-anak
Yang meneruskan jejak kita,
Tanpa harus sesaat pun
Merasa khawatir
Hatimu pergi meninggalkanku ... 

* I praise Allah for sending me you, My Love ...
 Thank you for the love you have given to me ...


Rabu, 11 April 2012

La Tas'aluni



Jangan tanyakan aku tentang hidupku
Ia adalah sebuah rahasia kehidupan
Ia adalah anugerah.. ia adalah ujian
Ia adalah dunia yang penuh dengan cita-cita
Aku telah menjualnya kepada Allah
Kemudian aku berjalan dalam barisan para pembawa petunjuk

Dan jalan hidupku adalah
Al-Qur’an, pedang, dan ibtila' (ujian)..
Allah telah berkahi
Dan para nabi terdahulu telah melaluinya
Para syuhada’ telah menyirami jalan ini Dengan darah mereka
Maka jadilah ia taman indah yang dikelilingi cahaya

Sedangkan ujung perjalananku adalah
Apa yang diridhai Allah dan apa yang diinginkanNya
Keuntungan dengan kemenangan yang nyata
Atau kesyahidan dan keabadian
Jika engkau telah berada di muka bumi
Dan engkau tahu umurmu terbatas
Maka jadilah pahlawan dan pembawa petunjuk
Jika tidak alangkah buruknya keberadaanmu

If My Lord Asks Me...



Pernah salah seorang murid Imam Ahmad berkata:Wahai Abu Abdullah,apakah pendapat Anda terhadap puisi yang menyebutkan tentang syurga dan neraka?

Beliau bertanya: contoh seperti puisi mana?

Muridnya menjawab : Seperti yang diucapkan oleh pemuisi-pemuisi (membacakan syair) :

Ketika Tuhan berkata kepadaku
Tidakkah kau malu bermaksiat kepadaku?
Kau sembunyikan dosa dari makhlukku
Tapi dengan penuh noda kau mengadapku?


Imam Ahmad berkata : Ulangi sekali lagi..

Muridnya berkata : Lalu aku ulangi sekali lagi. lalu dia (Imam Ahmad) bangun dan memasuki rumahnya serta menutup pintu. Ketika itu aku mendengar suara tangisannya dari dalam rumah dan beliau mengulang-ngulangi syair tadi...
Ketika Tuhan berkata kepadaku
Tidakkah kau malu bermaksiat kepadaku?
Kau sembunyikan dosa dari makhlukku
Tapi dengan penuh noda kau mengadapku?




Wasiat seorang Ibu kepada Putrinya

Wasiat Seorang Ibu Kepada Putrinya Yang Akan Merasakan Mahligai Malam Pertama


Al-’Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata : “Tatkala ‘Amr bin Hajr mendatangi ‘Auf bin Mahlam As-Syaibaani untuk melamar putrinya, Ummu Iyaas, maka ‘Auf berkata, “Aku akan menikahkan putriku kepadamu dengan syarat aku yang akan memberi nama putra-putranya dan aku yang akan menikahkan putri-putrinya kelak”.

Maka ‘Amr bin Hajr menjawab, “Adapun putra-putra kami, maka kami menamakan mereka dengan nama-nama kami dan nama-nama bapak-bapak kami dan nama-nama paman-paman kami. Adapun putri-putri kami maka yang akan menikahi mereka adalah yang setara dengan mereka dari kalangan kerajaan, akan tetapi aku akan memberikan kepadanya mahar sebuah bangunan di Kindah, dan aku akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kaumnya, tidak seorangpun dari mereka yang akan ditolak hajatnya”. Maka sang ayah (‘Auf) pun menerima mahar tersebut lalu menikahkan ‘Amr dengan putrinya Ummu Iyaas.

Tatkala ‘Amar akan membawa sang putri maka datanglah sang ibu menasehati empat mata kepada sang putri seraya berkata:

أَيْ بُنَيَّةِ، إِنَّكِ فَارَقْتِ بَيْتَكِ الَّذِي مِنْهُ خَرَجْتِ، وَعَشِّكِ الَّذِي فِيْهِ دَرَجْتِ، إِلَى رَجُلٍ لَمْ تَعْرِفِيْهِ، وَقَرِيْنٍ لَمْ تَأْلَفِيْهِ، فَكُوْنِي لَهُ أَمَةً يَكُنْ لَكِ عَبْدًا، وَاحْفَظِي لَهُ خِصَالاً عَشْراً يَكُنْ لَكِ ذُخْرَا
“Wahai putriku, sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu -yang disitulah engkau dilahirkan dan sarangmu tempat engkau tumbuh- kepada seorang lelaki asing yang engkau tidak mengenalnya dan teman (*hidup baru) yang engkau tidak terbiasa dengannya. Maka jadilah engkau seorang budak wanita baginya maka niscaya ia akan menjadi budak lelakimu. Hendaknya engkau memperhatikan dan menjaga 10 perkara untuknya maka niscaya akan menjadi modal dan simpananmu kelak.

أَمَّا الْأُوْلَى وَالثَّانِيَةُ: فَالْخُشُوْعُ لَهُ بِالْقَنَاعَةِ، وَحُسْنِ السَّمْعِ لَهُ وَالطَّاعَةِ
“Adapun perkara yang pertama dan kedua adalah (1) Tunduk kepadanya dengan sifat qonaah, serta (2) mendengar dan taat dengan baik kepadanya”

وَأَّمَّا الثَّالِثَةُ وَالرَّابِعَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِمَوْضِعِ عَيْنِهِ وَأَنْفِهِ، فَلاَ تَقَعُ عَيْنُهُ مِنْكِ عَلَى قَبِيْحٍ، وَلاَ يَشُمُّ مِنْكِ إِلاَّ أَطْيَبَ رِيْحٍ
“Adapun perkara yang ketiga dan keempat yaitu engkau memperhatikan pandangan dan ciumannya, maka (3) jangan sampai matanya melihat sesuatu yang buruk dari dirimu dan (4) jangan sampai ia mencium darimu kecuali bau yang terharum”

وَأَمَّا الْخَامِسَةُ وَالسَّادِسَةُ: فَالتَّفَقُّدُ لِوَقْتِ مَنَامِهِ وَطَعَامِهِ، فَإِنَّ حَرَارَةُ الْجُوْعِ مُلْهِبَةٌ، وَتَنْغِيْصَ النَّوْمِ مُغْضِبَةٌ
“Adapun perkara yang kelima dan keenam adalah (5 & 6) memperhatikan waktu tidurnya dan makannya, karena panasnya lapar itu membakar dan kurangnya tidur menimbulkan kemarahan”

وَأَمَّا السَّابِعَةُ وَالثَّامِنَةُ: فَالاِحْتِفَاظُ بِمَالِهِ، وَالْإِرْعَاءُ عَلَى حَشْمِهِ وَعِيَالِهِ، وَمِلاَكُ الْأَمْرِ فِي الْمَالِ حُسْنُ التَّقْدِيْرِ، وَفِي الْعِيَالِ حُسْنُ التَّدْبِيْرِ
“Adapun perkara ketujuh dan kedelapan ; (7) menjaga hartanya dan (8) perhatian terhadap kerabatnya dan anak-anaknya. Dan kunci pengurusan harta adalah penempatan harta sesuai ukurannya dan kunci perhatian anak-anak adalah bagusnya pengaturan”

وَأَمَّا التَّاسِعَةُ وَالْعَاشِرَةُ: فَلاَ تَعْصِنَّ لَهُ أَمْرًا وَلاَ تَفْشِنَّ لَهُ سِرًّا، فَإِنَّكِ إِنْ خَالَفْتِ أَمْرَهُ أَوْغَرْتِ صَدْرَهُ، وَإِنْ أَفْشَيْتِ سِرَّهُ لَمْ تَأْمَنِي غَدْرَهُ
“Adapun perkara yang kesembilan dan kesepuluh adalah (9) janganlah sekali-kali engkau membantah perintahnya dan (10) janganlah sekali-sekali engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya maka engkau akan memanaskan dadanya, dan jika engkau menyebarkan rahasianya maka engkau tidak akan aman dari penghkianatannya”

ثُمَّ إِيَّاكِ وَالْفَرَحَ بَيْنِ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ مُهْتَمًّا، وَالْكَآبَةَ بَيْنَ يَدَيْهِ إِذَا كَانَ فَرِحاً.
“Kemudian hatilah-hatilah engkau jangan sampai engkau gembira tatkala ia sedang bersedih, dan janganlah bersedih tatkala ia sedang bergembira”

Al-’Abaas bin Khoolid As-Sahmi berkata, “Maka kemudian Ummu Iyaaspun melahirkan putra yang bernama al Harits bin ‘Amr, di mana ia merupakan kakek dari Umrul Qois penyair dan pujangga yang tersohor.”

(Dari kitab Al-’Aqd Al-Fariid karya Al-Faqiih Ahmad bin Muhammad bin Abdi Robbihi Al-Andaluusi, tahqiq : DR Mufiid Muhammad, jilid 7 hal 89-90, Daarul Kutub al-’Ilmiyah, cetakan pertama, tahun 1983)

Senin, 02 April 2012

Biarkan Allah Yang Menilaimu

Terkadang orang berpikir secara tidak masuk akal dan
bersikap egois. Tetapi, bagaimanapun juga, terimalah
mereka apa adanya.

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin
akan berprasangka bahwa ada maksud-maksud buruk di
balik perbuatan baik yang kau lakukan itu. Tetapi,
tetaplah berbuat baik selalu.

Apabila engkau sukses, engkau mungkin akan
mempunyai musuh dan juga teman-teman yang iri hati
atau cemburu. Tetapi, teruskanlah kesuksesanmu itu.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan
menipumu. Tetapi, tetaplah bersikap jujur dan
terbuka setiap saat.

Apa yang telah engkau bangun bertahun-tahun lamanya,
dapat dihancurkan orang dalam satu malam saja. Tetapi,
janganlah berhenti dan tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan
di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu.
Tetapi, tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok
akan dilupakan orang. Tetapi, teruslah berbuat baik.

Berikan yang terbaik dari apa yang kau miliki, dan
itu mungkin tidak akan pernah cukup. Tetapi, tetap
berikanlah yang terbaik.

Sadarilah bahwa semuanya itu ada di antara engkau
dan Rabb-mu. Tidak akan pernah ada antara engkau dan orang
lain.

Jangan pedulikan apa yang orang lain pikirkan atas perbuatan
baik yang kau lakukan.

Tetapi,percayalah bahwa mata Rabb-mu tertuju pada orang-orang
yang jujur, dan Rabb-mu dapat melihat ketulusan hatimu.
"Yang dinamakan Muslim itu , adalah apabila muslim lainnya selamat dari keburukan lidah dan tangannya". (Al Hadist)
"Takwalah kamu pada Allah dimana saja kamu berada, dan lakukanlah perbuatan baik, untuk menipiskan perbuatan burukmu, yang akan menghapuskannya, dan pergaulilah manusia dengan pergaulan yang baik. (Al Hadits)
"Barang siapa yang bertaqwa pada Allah, Allah akan memberikannya jalan keluar yang terbaik, dan akan memberikan rezeki padanya dari sumber yang tidak ia sangka-sangka". (Al Qur'an).